MAGRIB MENGAJI SEBAGAI DASAR KEPRIBADIAN MASYARAKAT DANA MBOJO

Dana Mbojo merupakan daerah yang sangat kental akan jiwa agamaisnya, masyarakatnya yang ramah tamah dan terbuka

Peduli Banjir Wera : MTsN 1 Kota Bima Turun Lapangan

Senin, 10 Februari 2025 Segenap Keluarga besar MTsN 1 kota Bima bersama rombongan kementerian Agama kota Bima lainnya

MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO

Sebagai prolog, perlu kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan masjid dan bagaimana basis kekuatannya bagi ummat.

Sukses ISOC 2025 : 826 Peserta Padati MTsN 1 Kota Bima

Sebanyak 826 siswa/i dari berbagai madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar di kota/kab Bima memadati lapangan madrasah MTsN 1 kota

MTSN 1 KOTA BIMA BORONG JUARA 1 SYARHIL QURAN HAB KEMENAG KE 79

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Bima kembali mengukir prestasi. Kali ini tim syarhil quran putra dan putri berhasil menyabet juara

Senin, 21 April 2025

MTsN 1 Kota Bima Gelar Ujian Madrasah untuk Siswa Kelas IX



Kota Bima, 21 April 2025 – MTsN 1 Kota Bima resmi melaksanakan Ujian Madrasah (UM) bagi seluruh siswa kelas IX mulai hari ini, Senin(21/4/2025), hingga Senin mendatang (28/4/2025). Ujian ini diikuti oleh 422 siswa sebagai bagian dari rangkaian evaluasi akhir masa belajar di tingkat madrasah tsanawiyah.

Pelaksanaan Ujian Madrasah tahun ini mencakup seluruh mata pelajaran yang diajarkan selama tiga tahun terakhir. Tujuan dari ujian ini adalah untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa serta sebagai salah satu syarat kelulusan dari tingkat MTs.

Kepala MTsN 1 Kota Bima, H. Abdul Gani, S.Ag, menyampaikan bahwa ujian madrasah merupakan momen penting dalam menentukan kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. “Kami berharap seluruh siswa dapat mengikuti ujian dengan sungguh-sungguh dan menjaga integritas selama pelaksanaan ujian berlangsung,” ujarnya.

Pihak madrasah juga telah menyiapkan segala kebutuhan teknis dan administratif agar ujian berjalan lancar, termasuk pengawasan ketat serta protokol ketertiban ujian di setiap ruang kelas.

Ujian ini merupakan penilaian akhir yang hasilnya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan kelulusan siswa, selain dari nilai rapor dan sikap selama masa belajar.

Sabtu, 19 April 2025

MAGRIB MENGAJI SEBAGAI DASAR KEPRIBADIAN MASYARAKAT DANA MBOJO

 


Dana Mbojo  merupakan daerah yang sangat kental akan jiwa agamaisnya, masyarakatnya yang ramah tamah dan terbuka, menjadikan dana mbojo sangat di kenal dan disegani oleh daerah lain. Hal yang sangat melekat dalam kepribadian masyarakat dana mbojo pada dasarnya terletak pada nilai-nilai sosial yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang sering diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.  Mengaji merupakan kegiatan yang sudah mendarah daging dalam setiap  pribadi masyarakat yang telah ditanamkan sejak dini, guna menjadikan  AL – Quran sebagai kitab suci sekaligus pedoman dalam segala aspek kehidupan.'

Upaya pembumian Al –Quran  menjadi harga mati masyarakat dana Mbojo untuk menunjukan jati diri yang sebenarnya, dimana di setiap surau dan rumah -rumah penduduk terdengar lantunan ayat-ayat suci Al – Quran yang dilantunkan oleh masyarakat dana Mbojo. Tua  muda berpadu dalam satu ikatan iman yang menaklukan suasana magrib yang penuh dengan kesunyian. Jiwa islami yang kini telah mendarah daging itu harus tetap dipertahankan bahkan harus dikembangkan sehingga nantinya menjadi pondasi untuk membangun dana mbojo kedepan yang lebih maju, tentu saja berlandaskan IMAN dan TAQWA.[1]

Kata kunci : Mengaji, Kepribadian, Keagamaan, Pedoman.
Dana merupakan bahasa Mbojo ( Bima ) yang berarti “tanah”.
Jadi dana mbojo berarti tanah mbojo/bima atau daerah bima.

 Pentingnya peningkatan program magrib mengaji.
Mengaji merupakan faktor yang sangat penting bagi umat Islam, khususnya bagi para pemimpin kota Bima. mengingat Kota Bima merupakan daerah yang kental dengan nuansa agamanya, sangatlah naif apabila terdapat pemimpin daerah yang tidak bisa mengaji karena bukankah Al – Quran merupakan dasar hukum dan kitab suci umat Islam yang selalu menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan.
Apabila pemimpin tidak bisa mengaji, patutkah menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat yang nota bene mayoritas beragama Islam ini? Bukankah pada dasarnya pemimpin tidak hanya mengurus masalah politik dan pemerintahan tetapi juga mengurus persoalan ketimpangan moral yang merupakan efek dari persoalan sosial keagamaan. Hal ini acap kali menjadi masalah yang dihadapi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam  menyelesaikan persoalan di dalam masyarakat, khususnya persoalan mengenai keagamaan, tentu kita  membutuhkan pemimpin yang paham tentang agama.  Sementara dasar dari agama tersebut tentu saja harus bisa mengaji dan merealisasikannya dalam kehidupan.[2]

Belajar mengaji bagi masyarakat Bima pada masa-masa sebelumnya merupakan hal wajib. Oleh sebab itu, tidak heran banyak orang  tua yang menilai seseorang dari kemampuannya membaca Al -Quran. Alasannya, orang yang bisa membaca Al-quran dengan baik, dengan sendirinya dapat melaksanakan sholat dengan baik pula dengan demikian moralnya juga relatif baik. Bagi muda mudi Bima, umumnya orang yang tidak bisa mengaji acap kali disindir oleh rekan sebayanya sendiri. Sindirin-sindiran itu bukan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai motivasi agar setiap orang belajar membaca Al Quran dengan baik, kemudiaan mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata,sehingga terhindar dari pengaruh yang mengarah pada tindakan – tindakan negatif.[3]

Arus Globalisasi Penghambat Pelestarian Budaya Magrib Mengaji
Dahulu antusiasme para orang tua untuk membawa anak-anak mereka belajar Al-quran pada guru ngaji sangat tinggi, anak-anak benar-benar dididik dengan ilmu agama, terutama mengaji. Keinginan mereka untuk menuntut ilmu membuat mereka rela untuk berkorban, baik itu harta benda maupun moril. Bahkan mereka rela berebutan untuk mengisi “oi padasa” tempat gurunya mengambil air wudhu. Mereka beranggapan bahwa dengan akhlaq yang demikian, ilmu yang diajarkan oleh gurunya akan mudah diterima dan di ridhoi Allah SWT.

Kecintaan masyarakat Dana Mbojo terhadap Al-Quran dan keluhuran martabat yang dimiliki menjadikan Dana Mbojo begitu dikenal dan menjadi teladan bagi “dana makalai”. Tak heran bila Dana Mbojo sering dijadikan pusat kegiatan keagamaan. Hal lain yang membuat Dana Mbojo cukup dikenal adalah antusiasme  masyarakatnya yang benar-benar menjunjung tinggi nilai -nilai agama.

Kini semangatpelestarian  program magrib mengaji mulai terkikis bahkan mulai hilang ditelan arus globalisasi yang telah mengobrak-abrik kepribadian dasar generasi muda Dana Mbojo. Dewasa ini sebagian besar anak-anak dan generasi muda waktunya dihabiskan di depan televisi, facebookan tanpa mengenal waktu dan selalu  online di internet. Mirisnya lagi waktu antara Maghrib dan Isya yag selama ini dikampanyekan oleh Pemerintah Daerah yang harus digunakan untuk mengaji malah digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti yang telah disebutkan di atas. Bagaimanamungkin dapat menciptakan generasi  qur’ani jika tradisi buruk itu masih dilakoni.[4]
 
Upaya peningkatan program magrib mengaji dalam segala lingkup kehidupan.
Tergerusnya tradisi magrib mengaji di kalangan masyarakat dana mbojo oleh pengaruh globalisasi menjadikan tradisi mulia ini dianak tirikan oleh kebanyakan generasi muda sekarang. Kecendrungan untuk menata sistematika kehidupan yang islami di Dana Mbojo memang memerlukan upaya yang  serius sehingga tidak sekedar  menjadi slogan, melainkan menjadi sebuah cita-cita luhur yang harus di wujudkan. Dalam hal ini peran masyarakat sangat penting dalam menyukseskan niat mulia tersebut.
            
Pada dasarnya, upaya pelestarian kembali program magrib mengaji sangat bergantung pada peran “dou matua” (orang tua) dalam mengontrol  segala aspek kehidupan anak. Sebagai contoh kebiasaan anak setelah magrib adalah menonton televisi yang sebenarnya waktu antara magrib dan isya digunakan untuk mengaji. Untuk itu kemampuan dou matua dalam mengontrol anaknya akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan maupun terhambatnya progam magrib mengaji di dana mbojo.

Pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk menciptakan generasi yang cinta Al-quran. Salah satu cara yang telahdilakukan oleh para pemerintah daerah  untuk mengembalikan tradisi yang dahulu pernah ada dengan memberikan penanaman nilai – nilai keagamaan yang mengarah pada peningkatan program magrib mengaji.

Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an ( MTQ ), menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan demi terwujudnya  progam magrib mengaji yang merupakan pondasi kepribadian masyarakat Dana Mbojo. Namun dewasa ini, tradisi tersebut disalahartikan. Justru dianggap sebagai media untuk mendapatkan hadiah dan ketenaran, padahal tujuan dasar dari penyelenggaraan MTQ adalah untuk menumbuhkembangkan kecintaan terhadap membaca Al-Quran sehingga  tradisi magrib mengaji perlahan dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan cita-cita luhur yang diharapkan.[5]

 Kesimpulan.
Tradisi magrib mangaji yang begitu kental pada zaman dahulu menjadikan Dana Mbojo daerah yang erat akan nilai-nilai religius, hal ini terlihat dari antusiasme para masyarakat dalam membangun persatuan umat yang berlandaskan IMAN dan TAQWA.

Kuatnya pondasi akhlaq yang mulia menjadikan masyarakat Mbojo mantoi kaya akan nilai-nilai luhur, sebab segala tingkah laku dan perkataannnya merupakan cerminan dari Al-Quran yang  dijadikan kitab suci sekaligus pedoman hidup yang hakiki.  Kecintaan membaca Al-Quran secara nyata memberikan kontribusi bagi para generasi muda untuk terus menanamkan rasa memiliki dan dimiliki  sebagai penopang kepribadian dasar masyarakat dana mbojo.

Peranan pemerintah dalam upaya mewujudkan program  magrib mengaji sangatlah penting sebab pemerintah adalah penyelenggara utama daerah ini. Lebih dari itu, peranan orang tua sangatlah penting dalam mengotrol segala aspek kehidupan anak.

Dewasa ini, segala tingkah laku anak-anak dan generasi penerus bangsa cendrung dipengaruhi oleh arus globalisasi. Oleh sebab itu kita harus bijak dalam menyikapinya khususnya tren penggunaan alat komunikasi dan jejaring sosial, Jangan sampai alat tekologi tersebut yang menyetir tingkah laku kita padahal yang sebenarnya kitalah yang menyetir alat teknologi tersebut yang dapat kita gunakan untuk memudahkan berbagai urusan kita. Di harapkan juga kita bijak dalam melangkah, bila kita sudah melangkah berarti kita sudah siap dengan  segala resiko yang akan terjadi baik atau pun buruk, semua pilihan itu ada di tangan anda.


1Penulis adalah Seorang pelajar di Madrasah Aliah Negeri 2 Kota Bima, mengambil jurusan bahasa.Penulis berusaha  menjelaskan bagaimana dasar kepribadian masyarakat dana mbojo yang sesungguhnya,dimana dewasa ini program magrib mengaji hanyalah sebagai slogan harian yang tidak terealisasi dengan baik.
[2]  Pendapat Abdul Haris M.Pd, dari Akademisi Sekolah Tinggi  Keguruan dan Ilmu Pengetahuan.
[3]  Di kutip dari pendapat Anwar Hasnun dalam bukunya yang berjudul Prinsip Hidup Orang  Bima,dalam tradisi bima,conton lain pentingnya belajar membaca al – Quran yaitu bahwa seorang lelaki yang ingin melemar/menikah dengan seorang wanita, harus bisa membaca al – Quranul karim.
[4]  Pendapat dari penulis,pernyataan yang disampaikan penulis berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat.Kecendrungan terhadap arus globalisasi membuat generasi muda dana mbojo di perbudak teknologi.Kekuatan iman yang dahulu begitu melekat pada setiap individu,dewasa ini seakan musnah di telan jurang kemajuan.kata oi padasa(bahasa bima) berarti air tempayan, yang biasa di gunakan untuk mengambil air wudhu. Kata dana makalai memiliki pengertian daerah yang lain, yaitu daerah selain daerah bima seperti Dompu,Sumbawa,dan pulau Lombok.
[5]  Pendapat dari H.M. Qurais,wali kota bima.upaya yang kini sedang dilancarkan pemerintah kota bima demi peningkatan program magrib mengaji tidak akan berhasil tanpa ada partisipasi dari lapisan msyarakat, untuk itu diperlukan peran aktif orang tua dalam mewujudkan cita – cita tersebut,khususnya dou matua jangan dijadikan tradisi tersebut  hanya sekedar selogan saja,tetapi lebih jauh untuk dijadikan dasar dalam kepribadian masyarakat dana mbojo. Penyelenggaraan MTQ adalah langkah nyata PEMKOT Bima dalam peningkatan program magrib mengaji. Kata dou matua adalah bahasa bima yang berarti orang tua.

Penulis : Imamuddin

Sukses ISOC 2025 : 826 Peserta Padati MTsN 1 Kota Bima


Sebanyak 826 siswa/i dari berbagai madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar di kota/kab Bima memadati lapangan madrasah MTsN 1 kota Bima. Pasalnya hari ini, akan diselenggarakan lomba Ibnu Sina Olympics Competition (ISOC) 2025 (Ahad, 16/2/25) 

Kegiatan tersebut diselenggarakan setiap tahun sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar mandiri siswa, menumbuhkan budaya kompetitif yang sehat di kalangan siswa serta meningkatkan wawasan pengetahuan, kemampuan, kreativitas dan kerja keras untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Acara dibuka secara resmi oleh bapak kepala MTsN 1 kota Bima, H. Abdul Gani, S.Ag. dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa bangganya kepada para pembina dan peserta yang begitu antusias mengikuti kegiatan tahunan ini. Semangat ini menjadi penanda kebangkitan dan kemajuan dunia pendidikan, tandasnya. 

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa pada pelaksanaan lomba ini jauh dari intervensi siapapun, yang menjadi juara adalah yang terbaik sesuai kemampuan dan usaha yang diperjuangkannya. 

Setidaknya ada 8 madrasah ibtidaiyah dan 34 sekolah dasar yang ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Kemudian ada 4 mata pelajaran yang dilombakan yaitu mapel matematik, IPA, IPS dan Pendidikan agama Islam (PAI). Adapun rincian jumlah peserta berdasarkan mata pelajaran sebagai berikut : 313 peserta Mapel IPA, 213 peserta mapel PAI, 133 peserta mapel IPS dan 167 peserta mapel matematika. 

Setelah pembukaan, para peserta diarahkan menuju ruangan masing-masing. Soal dikerjakan melalui aplikasi yang telah disediakan oleh panitia. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh tanggung jawab. 

Semoga ISOC 2025 ini menjadi semangat untuk membangun generasi hebat bermartabat di masa-masa mendatang.







 

Peduli Banjir Wera : MTsN 1 Kota Bima Turun Lapangan


Senin, 10 Februari 2025 Segenap Keluarga besar MTsN 1 kota Bima bersama rombongan kementerian Agama kota Bima lainnya bertolak menuju Wera guna menyalurkan bantuan akibat bencana banjir bandang beberapa waktu yg lalu

Rombongan madrasah dibawah naungan kementerian Agama kota Bima secara resmi dilepas oleh Kepala Kantor Kementerian Agama, H. Mansyur, S.Ag. sekaligus memimpin proses penyaluran bantuan. 

Pembagian sejumlah bantuan ini merupakan inisiatif dari para guru dan pegawai yang ada di Lingkungan MTsN 1 Kota Bima. Gerakan peduli banjir yang dikoordinir langsung oleh Kepala madrasah, H. Abdul Gani, S. Ag direspon positif oleh keluarga besar MTsN 1 Kota Bima dengan mengumpulkan donasi 

“Kegiatan Kemanusiaan yang dilakukan oleh civitas Akademik MTsN 1 Kota Bima memberikan pelajaran yang berharga bagi guru dan pegawai. Betapa berat cobaan yang dialami oleh para korban, maka dari itu solidaritas, jiwa kemanusiaan, kepedulian, dan tolong menolong merupakan sikap yang harus ditanamkan sejak dini terutama menjaga keseimbangan lingkungan,” Ungkapnya.

Lebih lanjut beliau menyampaikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada seluruh Civitas akademik MTsN 1 Kota Bima yang telah ikut membantu kegiatan tersebut. 

“Semoga bantuan yang diberikan dari MTsN 1 kota Bima dapat bermanfaat bagi korban bencana banjir. Semoga mereka diberi ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah,” pungkasnya

 

MTSN 1 KOTA BIMA BORONG JUARA 1 SYARHIL QURAN HAB KEMENAG KE 79


Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Bima kembali mengukir prestasi. Kali ini tim syarhil quran putra dan putri berhasil menyabet gelar Juara 1 dalam ajang lomba Syarhil Qur'an yang digelar dalam rangka memperingati HAB kemenag ke 79 bertempat di aula MTsN 1 kota Bima. 

Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari yaitu 11 - 13 Desember 2024. Peserta terbagi dalam dua jenjang yaitu SMA/MA dan SMP/MTs. Masing-masing sekolah mengirimkan dua tim terbaiknya baik putra maupun putri. 

Tim syarhil putri terdiri atas Imam Ahmad Al Ishaq (VIII boarding school), Jalelani (IX Qira'at), dan Muh. Saldo rizky (IX boarding school). Kemudian tim syarhil putri terdiri atas afasya qurrata a'yun (IX boarding school), fildzah Nur alifah (VIII Qira'at), dan Niswatun Nadhifah (IX boarding school). Tim tersebut didampingi oleh pembina terbaiknya yaitu Nushatul Lisan Rahimah, M. Pd, Irfan, S. Pd dan Imamuddin, M. Pd. 




Nushatul lisan salah satu pembina menyampaikan rasa syukur serta bangga atas pencapaian tim syarhil MTsN 1 kota Bima. Tentu semuanya melalui proses dan usaha yang maksimal. 

“Keberhasilan meraih Juara 1 juga diperoleh atas kegigihan siswa dalam belajar, kami berusaha mendampingi dengan performa terbaik. Semoga kedepannya gelar juara dapat dipertahankan,” ungkapnya. 

H. Abdul Gani, S. Ag selaku kepala madrasah merasa bangga atas prestasi yang diraih oleh tim syarhil quran yang mampu mengharumkan nama madrasah. Mereka sudah memberikan yang terbaik untuk kita semua pangkasnya.

 

Rabu, 16 April 2025

MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO






Sebagai prolog, perlu kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan masjid dan bagaimana basis kekuatannya bagi ummat. Secara umum masyarakat pasti tahu bahkan orang awam pun  mengerti bahwa masjid adalah rumah Allah dimuka bumi ini. Tatkala kita ingin mencari surga dunia, maka disanalah bermuara kepingan surga yang sesungguhnya. Masjid juga menjadi tempat dimana kita mengadu, merintih, serta menyatakan kesyukuran atas setiap peristiwa yang dilewati. Dengan begitu, menjadi jelas bahwa masjid merupakan sarana pendekatan sekaligus penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya sebagai penanda seseorang itu mematuhi seluruh perintah serta menjauhi segala laranganNya.

Kemudian jika kita merujuk pada perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW maka akan ditemukan bagaimana masjid menjadi pilar kekuatan serta peradaban ummat waktu itu. Dari sini masyarakat dibentuk dan dibina dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Konsep yang dihadirkan Rasulullah tersebut memberi kekuatan maha dahsyat dalam berbagai aspek kehidupan, diantaranya yang paling menonjol ialah sosial ekonomi dan politik. Sejarah membuktikan bagaimana Kaum Aus dan khazraj mampu dipersatukan dalam naungan islam, demikian juga dengan kaum anshar dan muhajirin. Hal tersebut tidak terlepas dari peran masjid yang tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan semata namun lebih dari itu memberikan ruang pada aspek lainnya bagi kemajuan peradaban islam.

Tantangan dan Tindakan

Hari ini, di tanah Bima tercinta tantangan begitu besar di depan mata. Dinamika sosial yang beragam seakan melengkapi kompleksitas problematika dinegri tepian air ini. Degradasi moral disertai pudarnya nilai-nilai luhur budaya daerah tak kunjung sembuh dari sakitnya. Padahal berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah daerah dari masa ke masa namun belum mampu memberikan perbaikan yang berarti bagi dou labo dana Mbojo. Salah satu program pemerintah yang sangat menarik perhatian waktu itu ialah program magrib mengaji. Suatu langkah yang dipandang efektif untuk membendung budaya lokal dari pengaruh negatif tayangan televisi dan kemajuan teknologi. Selain itu juga program tersebut sebagai langkah strategis dalam menghidupkan kembali nilai-nilai islam dan kearifan lokal yang selama ini hampir atau bahkan dilupakan masyarakatnya.

 

Kaitan dengan program magrib mengaji sebagaimana tersebut diatas belum mampu secara optimal menjawab tantangan Bima hari ini dikarenakan belum adanya tindakan konkrit dari pemerintah melalui kebijakannya. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini perlu kami sampaikan bahwa pemerintah daerah selaku pemangku kekuasaan tertinggi harus melakukan revitalisasi atau optimalisasi fungsi masjid sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Jangan terjebak dikotomi politisasi masjid atau masjid politis, inilah saatnya masjid menjadi basis kekuatan serta peradaban bagi  dou labo dana Mbojo. Sebab dari masjid ekonomi diberdayakan, dari masjid kebudayaan islam serta kearifan lokal dikenalkan, dan dari masjid pula pengetahuan islam menemukan kembali kejayaannya.

Disisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat kerap ditemukan kasus dimana masjid hanya dijadikan sarana pemberitaan kematian. Distorsi fungsi masjid yang masih kurang dipahami oleh masyarakat ini perlu disosialisasikan oleh semua pihak. Tindakan yang selama ini dilakukan seakan memberi kesan bahwa  masjid hanyalah tempat ibadah dan pemberitaan kematian semata. Selain itu peran atau kontribusi masyarakat terhadap masjid hanya terlihat pada hari tertentu saja, misalnya pada hari besar islam atau ketika ada hajatan lainnya. Kondisi ini membuktikan bahwa antara masjid dan ummat masih ada tabir pemisah yaitu ritual atau doktrin agama, bukan lagi berdasarkan kesadaran untuk membangun dou labo dana  menuju paradaban yang gemilang, maka dari itu hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak di dana Mbojo tercinta yang harus segera direalisasikan dalam bentuk kebijakan(pemerintah) dan tentunya harus diiringi dengan dukungan masyarakat secara nyata.

Solusi Konkrit

Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan masjid sebagai basis kekuatan ummat, misalnya dibidang ekonomi dengan menerapkan program “lumbung masjid”. Program ini bertujuan menampung sumbangan hasil panen masyarakat berupa padi/beras atau lainnya sehingga bisa didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa harus menunggu pembagian zakat mal atau raskin dari pemerintah. Tentu hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mengurangi angka kriminalitas. Selain itu, dengan pengelolaan atau manajemen yang baik maka masjid bisa membangun badan usaha milik masjid (asset) berupa mini market atau lainnya, dengan demikian akan memudahkan masjid dalam menjalankan segala bentuk kegiatannya secara maksimal. Hal tersebut juga menjadi point penting sehingga strategi pencapaian kemakmuran masjid bagi kemakmuran ummat dan lingkungannya bisa terwujud.

 

Kemudian dibidang pendidikan dan keagamaan bisa dilakukan dengan upaya peningkatan kegiatan ketakliman atau kajian keagamaan. Dalam hal ini masjid menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter sebagai seorang muslim. Tua-muda, besar-kecil, pimpinan maupun bawahan menjadi satu kesatuan dalam majlis ilmu. Tidak ada pembeda diantara mereka melainkan taqwa, ummat betul-betul dibina menuju masyarakat madani yang diimpikan. Untuk itu pemerintah harus memberikan regulasi kepada para mubalig atau kaum intelektual (Dosen) untuk menyampaikan kajian-kajian sebagai mitra pemerintah, Dengan begitu pemerintah daerah lebih terbantu dan bisa melangkah pada tugas lainnya.

Selanjutnya dalam bidang sosial kemasyarakatan, kami merasa perlu adanya program “ronda subuh”. Program ini bertujuan membantu masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh berjamaah sebagaimana tradisi membangunkan makan sahur pada bulan puasa. Hal ini dirasa efektif, setidaknya memberikan sinyal kepada masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh dan mempersiapkan segala sesuatu untuk aktivitas hari itu. Artinya masyarakat dilatih untuk tidak bermalas diri melainkan mengawali pagi dengan menyembah Tuhan yang maha esa sembari berdoa  untuk dimudahkan dalam kompetisi hidup pada hari itu (fastabiqul khairat).

Semoga tulisan singkat ini menjadi bahan refleksi bagi siapapun yang membacanya, tentunya kami berharap tidak terbatas pada pemikiran semata, namun lebih dari itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya dou labo dana Mbojo tercinta.